Gerakan Pramuka sebagai salah satu wadah untuk mendidik karakter
generasi muda Indonesia memiliki peran vital di tengah-tengah
masyarakat. Dalam setiap kegiatannya ditungkan dalam suatu proses
pendidikan Kepramukaan yang mengandung nilai-nilai luhur.
Proses pendidikan dimaksudkan disini adakah cara menata dan mengatur
kegiatan yang berkaitan dan berkesinambungan. Mursitho (2010)
menerangkan bahwa sistem pendidikan dalam Gerakan Pramuka adalah sistem
yang mengatur dan menata proses pendidikan bagi anggota
Gerakan Pramuka.
Kemudian Tim Esensi Gerakan Pramuka (2012)
menjelaskan bahwa sebagai wadah pendidikan non formal, Gerakan Pramuka
menggunakan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan. Proses
pendidikan Kepramukaan pada hakikatnya berbentuk
kegiatan menarik yang mengandung pendidikan, bertujuan pendidikan,
dilandasi nilai-nilai pendidikan, dilaksanakan di luar lingkungan
pendidikan sekolah.
Pendidikan Kepramukaan sesuai dengan gagasan
penciptanya. Lord Boden Powell, yang mula-mula dituangkan
dalam buku Scouting For Boys, pada dasarnya ditujukan kepada pembinaan
anak-anak dan pemuda, bukan untuk orang dewasa. Namun untuk menunjang
keberhasilan pembinaan peserta didik itu, perlu adanya pendidikan untuk
orang dewasa, yang akan bertindak sebagai
pamong dengan sikap sesuai dengan sistem among, membawa peserta didik
kepada tujuan Gerakan Pramuka.
Dengan demikian maka fungsi
pendidikan Kepramukaan akan berbeda yaitu untuk anak-anak dan pemuda
berfungsi sebagai permainan atau kegiatan yang menarik,
sedangkan bagi orang dewasa merupakan pengabdian dari para sukarelawan.
Maka, untuk menunjang proses pendidikan Kepramukaan berjalan
sebagaimana mestinya, dibutuhkan pembina-pembina Pramuka berkualitas di
setiap satuan. Dan para pembina Pramuka berkualitas
tersebut dapat terwujud dengan sokongan pelatih pembina yang
berkualitas pula. Oleh karenanya, dalam makalah ini akan dibahas
peran-peran pelatih pembina Pramuka masa kini dalam meningkatkan
kualitas pendidikan Kepramukaan bagi pembina Pramuka pada khususnya,
dan bagi kegiatan Pramuka pada umumnya. Makalah ini ditulis dalam
konteks global yang berkaitan dengan pendidikan orang dewasa.
Agar mempermudah pembahasan makalah dan menetapkan tujuan penulisan makalah ini, penulis merumuskan masalah yang diangkat
dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
- Apakah peran pelatih pembina Pramuka masa kini dalam konteks pendidikan orang dewasa?
- Bagaimana urgensi peran tersebut dalam pendidikan Kepramukaan?
Berdasarkan
rumusan masalah yang di angkat, tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui peran pelatih pembina Pramuka masa kini dalam kaitannya dengan pendidikan orang dewasa; dan
- Untuk menjelaskan peran strategis tersebut
dalam meningkatkan kualitas pendidikan Kepramukaan.
Fungsi Pendidikan Kepramukaan
Prinsip
Dasar, Metode dan Kode Kehormatan Pramuka merupakan Ikatan yang tidak
dapat dipisahkan dalam Proses pendidikan kepramukaan.
Saka Wirakartika Kayen (2011) menjelaskan bahwa Baden-Powell sebagai
penemu sistem pendidikan kepramukaan telah menyusun prinsip-prinsip
Dasar dan Metode Kepramukaan, lalu menggunakannya untuk membina generasi
muda melalui pendidikan kepramukaan. Beberapa
prinsip itu didasarkan pada kegiatan anak atau remaja sehari-hari.
Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan itu harus diterapkan secara
menyeluruh. Bila sebagian dari prinsip itu dihilangkan, maka organisasi
itu bukan lagi gerakan pendidikan kepramukaan.Berdasarkan
AD/ART Gerakan Pramuka maka pendidikan Kepramukaan mempunyai fungsi
sebagai berikut:
- Kegiatan menarik bagi anak atau pemuda
Kegiatan
menarik di sini dimaksudkan kegiatan yang menyenangkan
dan mengandung pendidikan. Karena itu permainan harus mempunyai tujuan
dan aturan permainan, jadi bukan kegiatan yang hanya bersifat hiburan
saja. Karena itu lebih tepat kita sebut saja kegiatan menarik.
- Pengabdian
bagi orang dewasa
Bagi orang dewasa kepramukaan
bukan lagi permainan, tetapi suatu tugas yang memerlukan keikhlasan,
kerelaan, dan pengabdian. Orang dewasa ini mempunyai kewajiban untuk
secara sukarela membaktikan dirinya demi suksesnya
pencapaian tujuan organisasi.
- Alat bagi masyarakat dan organisasi
Kepramukaan
merupakan alat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat
setempat, dan juga alat bagi organisasi
untuk mencapai tujuan organisasinya. Jadi kegiatan kepramukaan yang
diberikan sebagai latihan berkala dalam satuan pramuka itu sekedar alat
saja, dan bukan tujuan pendidikannya.
Tujuan Proses Pendidikan Kepramukaan
Gerakan
Pramuka bertujuan mendidik anak-anak dan pemuda Indonesia dengan
prinsip-Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan yang pelaksanaannya
disesuaikan dengan keadaan, kepentingan dan perkembangan bangsa dan
masyaraka indonesia dengan tujuan agar:
- Anggota
Pramuka menjadi manusia yang berkepribadian dan berwatak luhur serta
tinggi mental, moral, budi pekerti dan kuat keyakinan beragamanya.
- Anggota Pramuka menjadi manusia yang tinggi kecerdasan dan keterampilannya.
- Anggota Pramuka menjadi manusia
yang kuat dan sehat fisiknya.
- Anggota Pramuka menjadi manusia
yang menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan
patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga menjadi
anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang sanggup
serta mampu menyelenggarakan pembangunan bangsa dan negara.
Tujuan
tersebut merupakan cita-cita Gerakan Pramuka. Karena itu semua kegiatan
yang dilakukan oleh semua unsur dalam Gerakan Pramuka harus mengarah
pada pencapaian tujuan tersebut. Sementara
itu, Tugas pokok Gerakan Pramuka adalah menyelenggarakan pendidikan
kepramukaan bagi anak dan pemuda Indonesia, menuju ke tujuan Gerakan
Pramuka, sehingga dapat membentuk tenaga kader pembangunan yang berjiwa
Pancasila dan sanggup serta mampu menyelenggarakan
pembangunan masyarakat, bangsa dan negara. Dalam melaksanakan
pendidikan kepramukaan tersebut Gerakan Pramuka selalu memperhatikan
keadaan, kemampuan, kebutuhan dan minat peserta didiknya (Pramuka
Ma’arif, 2011).
Pengertian dan Tujuan
Konsep Pendidikan Orang Dewasa
Konsep pendidikan orang
dewasa atau dengan kata lain sering disebut dengan andragogi, merupakan
sebuah konsep yang tepat dalam implementasi pendidikan dan pelatihan
pembina Pramuka. Pelatih pembina dapat mengadopsi
atau berpedoman pada konsep Andragogi ketika melaksanakan pendidikan
dan pelatihan Kepramukaan bagi pembina Pramuka.
Andragogi berasal
dan bahasa Yunani “Andros” artinya orang dewasa, dan “Agogus” artinya
memimpin. lstilah lain
yang kerap kali dipakai sebagai perbandingan adalah “Pedagogi” yang
ditarik dari kata “Paid” artinya anak dan “Agogus” artinya memimpin.
Maka secara harfiah pedagogi berarti seni dan pengetahuan mengajar anak.
Karena itu,
pedagogi berarti seni atau pengetahuan mengajar anak, maka apabila
memakai istilah pedagogi untuk orang dewasa jelas kurang tepat, karena
mengandung makna yang bertentangan. Sementara itu, menurut (Kartini
Kartono, 1997), andragogi adalah ilmu membentuk manusia;
yaitu membentuk kepribadian seutuhnya, agar ia mampu mandiri di tengah
lingkungan sosialnya (Muta’alimin, 2009).
Berdasarkan pengertian
di atas, dapat disimpulkan bahwa andragogi merupakan cara untuk belajar
secara langsung dari pengalaman yang
bermakna suatu proses pendidikan kembali yang dapat mengurangi
konflik-konflik sosial, melalui kegiatan-kegiatan antar pribadi dalam
kelompok belajar itu. Selain itu, andragogy juga merupakan suatu proses
belajar yang diarahkan sendiri, dimana kira secara
terus menerus dapat menilai kembali kebutuhan belajar yang timbul dari
tuntutan situasi yang selalu berubah.
Tujuan pendidikan orang
dewasa adalah untuk membantu mereka melakukan penyesuaian psikologis
dengan kondisi sosial. Kemudian andagogi dapat
melengkapi keterampilan yang diperlukan orang dewasa untuk menemukan
dan memecahkan masalah yang menekankan pemecahan dengan keterampilan
bukan isi. Andagogi juga untuk menolong merubah kondisi sosial orang
dewasa. Selain itu, andagogi memberi bantuan agar
orang dewasa menjadi individu bebas dan otonom (Suprijanto, 2007).
Maka
benang merah yang dapat ditarik dari konsep pendidikan orang dewasa di
atas adalah bahwa Gerakan Pramuka dalam pelatihan pembina Pramuka sangat
erat bertumpu pada konsep andragogi
tersebut. Andragogi adalah proses untuk melibatkan peserta didik dewasa
ke dalam suatu struktur pengalaman belajar seperti yang dilakukan dalam
kegiatan-kegiatan Gerakan Pramuka. Hal penting lainya yang perlu
diperhatikan dalam penerapan konsep pendidikan
orang dewasa dalam Gerakan Pramuka adalah bahwa filosofi pendidikan Ki
Hajar Dewantara dimana pembina merupakaan teladan bagi sesama Pramuka.
Dengan
berpedoman dan mengacu pada kajian teoritis pada bab sebelumnya, maka
penulis dapat membuat suatu sintesis
bahwa pelatih pembina sebagai orang yang memberikan dan menerapkan
pendidikan orang dewasa memiliki peran-peran diantaranya: sebagai
pelopor, sebagai mediator, dan sebagai motivator. Untuk lebih jelasnya,
ketiga peran tersebut dijabarkan dalam pembahasan di
bawah ini:
Sebagai Pelopor
Dalam
ilustrasi sederhana pelopor adalah seseorang yang pertama kali memasuki
daerah tertentu, sehingga ia harus menemukan jalan untuk kemajuan daerah
tersbut. Karakteristik untuk pekerjaan pelopor
(yang disebut pionir) adalah kesulitan yang mereka jalani dan usaha
besar yang harus mempertahankan banyak fitur yang masih hilang. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) pelopor berarti yg berjalan
terdahulu; yang berjalan di depan.
Dalam kaitannya
dengan pelatih pembina, pelatih pembina harus mampu menjadi yang
pertama dalam menggagas pembinaan Kepramukan yang berkualitas oleh para
pembina. Pelatih pembina harus memastikan bahwa pembina memiliki
kompetensi yang memadai untuk membina satuan Pramuka.
Jadi pelatih pembina identik sebagai sosok individu yang berusia
produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner,
optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, dsb. Kelemahan mecolok
dari seorang pelatih pembina adalah kontrol diri yang
matang dengan kelebihan pelatih pembina yang paling menonjol adalah mau
menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural
dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri.
Peran penting dari
seorang pelatih pembina lainnya adalah pada kemampuannya
melakukan perubahan. Perubahan menjadi indikator suatu keberhasilan
dalam Gerakan Pramuka. Perubahan menjadi sebuah kata yang memiliki daya
magis yang sangat kuat sehingga membuat gentar orang yang mendengarnya,
terutama mereka yang telah merasakan kenikmatan
dalam iklim status quo. Kekuatannya begitu besar hingga dapat
menggerakkan kinerja seseorang menjadi lebih produktif. Keinginan akan
suatu perubahan melahikar sosok pribadi yang berjiwa optimis. Optimis
bahwa hari depan Gerakan Pramuka pasti lebih baik.
Pelatih pembina sebagai pelopor menuntut pelatih pembina agar
memberikan kesempatan kepada para pembina untuk mengembangkan
pribadinya, bakatnya, kemampuannya, cita-citanya melalui konsep
andragogi. Dalam hal ini, pelatih pembina mengedepankan proses
pendidikan
yang berorientasi pada peserta didik (
Students-Centered).
Selain
itu, pelatih pembina Pramuka wajib bersikap dan berperilaku yang sesuai
dengan kode kehormatan Pramuka. Kemudian pelatih pembina Pramuka dapat
menerapkan model pembisaaan dalam
rangka memainkan perannya sebagai pelopor. Hal ini sejalan dengan
pendidikan karakter dalam Al Quran yang menekankan keseimbangan antara
ilmu dan amal, praktik keilmuan melalui pembiasaan. Islam sangat
memperhatikan aspek penerapan ilmu karena proses pendidikan
perilaku tanpa didukung dengan pembiasaan diri, maka pendidikan itu
hanya menjadi angan-angan belaka (Syafri, 2012).
Sebagai Mediator
Pelatih
pembina sebagai mediator adalah orang yang mampu membantu menyelesikan
permasalahan
pembinaan Kepramukaan di satuan atau di daerahnya. Mediator adalah
pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna
mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan
cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian. Jadi,
peran mediator hanyalah membantu para pihak dengan cara tidak memutus
atau memaksakan pandangan atau penilaiannya atas masalah-masalah selama
proses mediasi berlangsung kepada para pihak.
Dalam konteks yang
lebih luas Gerakan Pramuka bisa digunakan
sebagai mediator pembentukan karakter bangsa untuk menanamkan nilai
positif dari keanekaragaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. oleh
karena itu, pelatih pembina harus lebih dulu mengambil alih peran
mediator tersebut sebelum mendidik dan melatih para
pembina Pramuka dan para anggota Pramuka secara luas agar menjadi agen
atau mediator perubahan karakter generasi muda.
Sebagai mediator
pelatih pembina hendaknya memiliki pengetahuan dan pemahaman yang cukup
tentang media pendidikan Kepramukaan karena
hal tersebut merupakan alat komunikasi guna lebih mengefektifkan proses
pendidikan Kepramukaan. Dengan demikian jelaslah bahwa Gerakan Pramuka
merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan
merupakan bagian integral demi berhasilnya proses
pendidikan di Indonesia.
Sebagai mediator pelatih pembina
hendaknya menciptakan kualitas lingkungan yang interaktif secara
maksimal, mengatur arus kegiatan pembina, menampung semua persoalan yang
diajukan para pembina dan mengembalikan lagi persoalan
tersebut kepada pembina yang lain untuk dijawab dan dipecahkannnya,
lalu pelatih pembina bersama pembina lainnya harus menarik kesimpulan
atas jawaban masalah sebagai hasil belajar. Untuk itu pelatih pembina
harus terampil mempergunakan pengetahuan tentang
bagaimana orang berinteraksi dan berkomunikasi.
Pelatih pembina
sebagai mediator juga menempatkan pelatih pembina sebagai sumber belajar
yang berarti bahwa mereka menjadi kunci dalam setiap latihan dan
kegiatan Kepramukaan. Pelatih pembina harus merencanakan,
mengimplementasikan, dan mengevaluasi setiap latihan yang diberikan.
Kegiatan Kepramukaan harus dilakukan dalam bentuk kegiatan nyata dengan
contoh-contoh nyata, dimengerti dan dihayati, atas dasar minat dan karsa
para peserta didik.
Dalam hal ini pelatih
pembina dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan wawasan
yang luas. Pelatih pembina wajib mempunyai ilmu dan keterampilan khusus
yang diperoleh dari pendidikan dan pelatihan yang sesuai. Apabila
pelatih pembina memiliki kompetensi yang memadai,
tentu saja proses pembinaan Kepramukaan dapat menjamin meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan para pembina lainnya. Hal ini sejalan
dengan konsep andragogy bahwa pendidikan ornag dewasa dapat melengkapi
keterampilan yang diperlukan orang dewasa untuk menemukan
dan memecahkan masalah yang menekankan pemecahan dengan keterampilan
bukan isi (Suprijanto, 2007).
Sebagai Motivator
Peran
pelatih pembina sebagai motivator harus memastikan para pembina lain
mempunyai semangat dan motivasi yang
tinggi. Dalam hal ini, pelatih Pembina dapat memperhatikan unsur-unsur
pendidikan melalui proses (1) belajar untuk berfikir; (2) belajar untuk
melakukan; (3) belajar untuk menjadi dirinya sendiri; dan (4) belajar
untuk hidup bersama. Selain itu, pelatih pembina
dapat pula memperhatikan konsep andragogi seperti yang telah dijelaskan
pada bab dua makalah ini.
Adisusilo (2012) menjelaskan bahwa
motivasi adalah daya dorong yang memungkinkan peserta didik untuk
bertindak atau melakukan sesuatu. Oleh karena itu,
pelatih pembina sangat berperan dalam menumbuhkan motivasi dengan cara
menunjukkan pentingnya pengalaman dan materi Kepramukaan bagi kehidupan
pembina secara khusus dan peserta didik di kemudian hari.
Dalam
Islam, motivasi harus diberikan dengan mengikuti
fitrah manusia karena motivasi menyentuh sifat dasar manusia (fitrah)
yang menyukai kebaikan dan membenci keburukan, motivasi ini akan
menyeimbangkan aspek akal, jasmani, serta jiwa atau hati. Ketiganya
harus seimbang, tidak pincang (Syafri, 2012).
DAFTAR
PUSTAKA
Adisusilo, Sutarjo. 2012.
Pembelajaran Nilai-Karakter: Konstruktivisme dan VCT sebagai Inovasi Pendekatan Pembelajaran Afektif. Depok: Rajagrafindo Persada, PT.
Mursitho, Joko. 2010.
Pembaharuan Bahan Kursus KMD
Tahun 2010. Jakarta: Pusdiklatnas.
Muta’allimin, M. 2009.
Konsep dan Metode Pembelajaran untuk Orang Dewasa (Online). Dapat diakses pada:
http://nasacenter.blogspot.com/2009/11/konsep-dan-metode-pembelajaran-untuk.html.
NN. 2005.
Kepres RI No. 104 Tahun 2004 dan SK Kwarnas No. 086 tahun 2005 tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Gerakan Pramuka.
Jakarta: Kwarnas.
Pramuka Ma’arif. 2011. Saka Wirakartika (Online). Dapat diakses pada:
http://scoutingmaarif.wordpress.com/sakasatuan-karya/ saka-wira-kartika.
Saka Wirakartika Kayen. 2011.
Saka Wirakartika (Online). Dapat diakses pada:
http://sakawirakartikakayen.blogspot.com/
Suprijanto,H. 2007.
Pendidikan Orang Dewasa; dari Teori
hingga Aplikasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Syafri, Ulil Amri. 2012.
Pendidikan Karakter Berbasis Al-Qur’an. Depok: Rajagrafindo Persada, PT.
Tim Esensi Gerakan Pramuka. 2012.
Mengenal Gerakan Pramuka. Jakarta: Penerbit
Erlangga